Alumni Be Coach Tel-U Hadirkan Mizana Khusnu Perdani, Bagikan Strategi Mendapatkan dan Beradaptasi dengan Pekerjaan di Luar Negeri
29 Oct 2026Telkom University terus mendorong kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja melalui kegiatan Alumni Be Coach bertema “From Tel-U to the World: Strategi Mendapatkan dan Beradaptasi dengan Pekerjaan di Luar Negeri”. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom pada Kamis, 29 Oktober 2026, oleh Program Studi S1 Teknologi Informasi. Narasumbernya adalah Mizana Khusnu Perdani, Alumni S1 Informatika angkatan 2008 yang kini menjabat sebagai Pranata Informasi Diplomatik di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura. Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan tentang jalur karier internasional, persiapan menghadapi dunia profesional, dan pengalaman beradaptasi di negara lain.
Kegiatan dipandu oleh moderator Ahmad Darajat Basallama (Ajat) Kepala Urusan Alumni Telkom University. Moderator mengajak mahasiswa memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Mahasiswa juga dipersilakan bertanya langsung melalui open mic maupun kolom obrolan.
Jalur Karier ke Luar Negeri yang Beragam
Di awal sesi, Mizana menjelaskan bahwa jalur menuju karier di luar negeri sangat beragam. Pengalamannya berasal dari jalur pegawai negeri sipil (PNS) di Kementerian Luar Negeri, sehingga berbeda dengan jalur di perusahaan global.
Mizana menempuh pendidikan D3 Informatika yang lulus pada 2008, lalu melanjutkan ke S1 Teknik Informatika. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan magister Teknologi Informasi di Universitas Indonesia melalui beasiswa Kominfo. Karier pertamanya dimulai di Bakrie Telkom, sebelum ia bergabung dengan Kementerian Luar Negeri sebagai PNS. Ia menempati jabatan Pranata Informasi Diplomatik, yaitu jabatan fungsional yang bertugas mengolah informasi diplomatik dan data digital serta memantau dan mengevaluasi teknologi informasi.
Dari jabatan tersebut, Mizana mendapat dua kali penempatan di luar negeri. Penempatan pertamanya di KBRI Paris pada 2019–2022, dilanjutkan dengan KBRI Singapura hingga saat ini. Ia menjelaskan bahwa pola penempatan di Kementerian Luar Negeri berlangsung secara bergantian, yaitu tiga tahun di luar negeri dan tiga tahun di Indonesia.
Mizana juga memaparkan beberapa jalur menuju karier global, di antaranya bekerja di perusahaan global (kantor luar negeri atau tim regional), penugasan internasional dari instansi pemerintah, BUMN, atau organisasi internasional, kerja jarak jauh (remote) untuk tim global, serta studi atau riset di luar negeri.
Kemampuan yang Dibutuhkan dan Hal yang Perlu Dipertimbangkan
Mizana menekankan beberapa kemampuan yang membuat seseorang dipilih untuk bekerja di luar negeri, yaitu kedalaman teknis, kemampuan komunikasi termasuk bahasa Inggris, soft skill, dan pemahaman konteks bisnis. Menurutnya, kemampuan bahasa Inggris sangat penting dan ia menyesal tidak mengasahnya sejak masa kuliah. Studi di luar negeri umumnya mensyaratkan IELTS dengan skor di atas 6,5, bukan sekadar TOEFL.
Mahasiswa juga diajak menimbang tawaran kerja secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi gaji. Hal yang perlu dicermati meliputi ruang lingkup pekerjaan, status kontrak, masa percobaan, kelayakan hidup di negara tujuan, serta dukungan visa atau izin kerja (work permit). Mizana mencontohkan kasus rekan yang sudah mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya, tetapi gagal bekerja di perusahaan baru karena tidak mendapat dukungan visa. Ia juga mengingatkan agar mahasiswa mencari informasi sebanyak mungkin tentang negara tujuan karena aturan setiap negara berbeda.
Tantangan Beradaptasi di Negara Baru
Mizana menyampaikan bahwa menetap di luar negeri sangat berbeda dengan sekadar berwisata. Di Paris, ia harus beradaptasi dengan hal-hal dasar, mulai dari mencari tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari hingga menyesuaikan diri dengan makanan dan bahasa setempat. Birokrasi di sana juga rumit: rekening bank baru jadi setelah sekitar satu bulan, sedangkan kartu ATM baru dapat digunakan sekitar tiga bulan kemudian. Karena itu, ia menyarankan agar calon pekerja di luar negeri membawa uang tunai yang cukup pada masa awal.
Setelah berbagai urusan administrasi selesai, ia merasakan kehidupan menjadi jauh lebih mudah. Di Singapura, proses adaptasi berlangsung lebih singkat, sekitar satu bulan, antara lain karena bahasa yang lebih mudah. Ia menggambarkan Singapura sebagai negara yang sangat global, dengan budaya kerja yang keras namun tepat waktu.
Belajar dari Pengalaman Kerja Lintas Latar Belakang
Dalam sesi tanya jawab, Mizana menjelaskan bahwa penempatan di Paris memberinya banyak pelajaran, terutama karena ia bekerja bersama diplomat dan rekan dari latar belakang non-IT. Pengalaman itu mengubah pola pikirnya dan membuatnya lebih terbuka serta fleksibel. Ia juga belajar untuk tidak menunggu perintah, tetapi berinisiatif dan berinovasi.
Ia menekankan pentingnya menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang ditemui, tidak ragu bertanya dan berkoordinasi, serta mencari mentor. Menurutnya, inovasi yang baik harus berangkat dari pemahaman terhadap akar masalah agar solusinya tepat guna dan berkelanjutan. Pelajaran yang diperoleh di dunia kerja juga tidak hanya bersifat teknis, tetapi jauh lebih luas dari yang didapat di bangku kuliah.
Diskusi Interaktif dan Tips Mengurus Visa
Mahasiswa S1 Teknologi Informasi angkatan 2023 mengajukan pertanyaan seputar kehidupan di Eropa dan dokumen kerja seperti work visa, termasuk untuk pekerjaan remote pada perusahaan di Amerika Serikat atau Eropa. Mizana menyarankan mahasiswa membaca portal resmi negara tujuan. Menurutnya, portal tersebut biasanya memuat persyaratan setiap jenis visa dan izin kerja, bahkan sering menyediakan templat dokumen dan versi bahasa Inggris.
Pada akhir kegiatan, moderator Ajat berharap wawasan yang dibagikan dapat menjadi fondasi bagi mahasiswa semester akhir yang sedang menyiapkan skripsi dan merencanakan langkah karier setelah lulus. Ia juga mengingatkan bahwa dunia kerja berbeda dengan dunia kampus, termasuk dalam hal menghadapi kesalahan dan kritik. Karena itu, mahasiswa perlu mempersiapkan diri sejak sekarang.
Melalui Alumni Be Coach, Telkom University terus memperkuat hubungan antara alumni dan mahasiswa melalui pertukaran pengalaman dan wawasan profesional. Kegiatan ini diharapkan membantu mahasiswa memahami kebutuhan dunia kerja, mengenali kompetensi yang perlu dipersiapkan, dan menyusun langkah karier secara lebih terarah, termasuk untuk peluang di tingkat global.