Memuat...

Berita

Alumni Be Coach Tel-U Hadirkan I Gusti Bagus Kus Dwi Adinata, Bagikan Strategi Siapkan Karier Teknologi Global

22 Oct 2026

Telkom University terus mendorong kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja melalui kegiatan Alumni Be Coach bertema “Ready for Global Tech: Skill, Portfolio & Personal Branding untuk Karier Internasional”. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom pada Kamis, 22 Oktober 2026, dan diikuti sekitar 30 mahasiswa Program Studi S1 Teknologi Informasi, sebagian besar mahasiswa tingkat akhir. Narasumbernya adalah I Gusti Bagus Kus Dwi Adinata, Alumni S1 Informatika angkatan 2007 yang kini menjabat Senior IT Manager di PT Bank Rakyat Indonesia, Taipei Branch (Taiwan). Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mempelajari keterampilan, portofolio, dan personal branding yang dibutuhkan perusahaan teknologi global.


Kegiatan dibuka dengan pemaparan singkat mengenai peran unit karier dan alumni Telkom University dalam mendampingi mahasiswa mempersiapkan dunia kerja sejak awal masa kuliah. Dosen pengampu mata kuliah, Rahmat, menyampaikan bahwa masukan dari alumni sangat dibutuhkan mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan studi sekaligus menyiapkan langkah berikutnya. Ia berharap mahasiswa tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif berdiskusi.


Perjalanan Karier dari Telkom hingga Taiwan

Dalam sesi berbagi, Gusti menceritakan perjalanannya sejak masuk STT Telkom pada 2007 dan lulus pada awal 2011 dengan IPK 3,6. Ia bergabung dengan BRI sebagai staf IT pada 2011, lalu berkarier sebagai junior programmer di bagian quality assurance dan tim pengembangan core banking. Sejak 2021 ia ditugaskan di BRI Taipei Branch, Taiwan, dan telah sekitar lima tahun bekerja di sana.

Di luar pekerjaannya, Gusti mengikuti program executive education di HEC Paris pada 2022. Saat ini ia juga menempuh MBA di SBM ITB. Ia pernah meraih penghargaan best innovator BRI tingkat global pada 2023. Selama kuliah, ia aktif di organisasi keagamaan dan menjadi bendahara di UKM Band. Menurutnya, pengalaman itu melatih kemampuan mengelola keuangan dan kerja tim.


Membaca Arah Industri dan Kebutuhan Keterampilan

Gusti memaparkan sejumlah data dari World Economic Forum, McKinsey, dan PwC. Menurut WEF 2025, 86 persen pemberi kerja memperkirakan kecerdasan buatan (AI) dan pengolahan informasi akan mendorong transformasi bisnis. Permintaan perusahaan di Amerika Serikat terhadap kemampuan AI juga naik sekitar tujuh kali lipat.


Ia menyebut tiga peran dengan pertumbuhan permintaan tertinggi pada 2025–2030, yaitu big data specialist, fintech engineer, serta AI dan machine learning specialist. Sebaliknya, pekerjaan repetitif seperti teller, layanan pelanggan, dan entri data diperkirakan menurun.


Dari sisi keterampilan teknis, mahasiswa disarankan memahami AI, big data, jaringan, dan keamanan siber. Dari sisi nonteknis, kemampuan berpikir analitis dan ketahanan diri (resiliensi) sangat penting. Gusti juga menganjurkan profil “T-shaped”, yaitu wawasan luas di banyak bidang dengan keahlian mendalam di satu bidang tertentu. Ia menegaskan bahwa gelar tetap penting sebagai pintu masuk, tetapi pemberi kerja global makin menilai bukti kemampuan melalui proyek, riset, dan sertifikasi.


Portofolio, CV, dan Personal Branding

Gusti mendorong mahasiswa mengembangkan portofolio dari proyek perkuliahan, proyek inisiatif sendiri, kontribusi open source, magang, hingga proyek tim. Proyek yang ditonjolkan harus relevan dengan peran yang dituju, berkualitas, dan memiliki dokumentasi yang jelas, termasuk di GitHub. Untuk sertifikasi, ia menyarankan memilih yang sesuai dengan deskripsi pekerjaan dan memulainya dari kursus gratis sebelum beralih ke yang berbayar.


Untuk CV internasional, ia menganjurkan memakai standar template seperti yang dirujuk Harvard University, menuliskan pencapaian yang terukur dengan formula XYZ dari Google, serta menggunakan istilah yang sama dengan deskripsi pekerjaan agar lolos sistem penyaring Applicant Tracking System (ATS). CV tidak perlu diganti total untuk tiap perusahaan, tetapi urutan keterampilan dan proyeknya disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan tujuan.


Di LinkedIn, mahasiswa perlu mengisi headline yang memuat target peran, keterampilan inti, dan buktinya, serta bagian about, experience, skill, dan certification. Gusti menekankan agar keterampilan, portofolio, CV, dan LinkedIn konsisten satu sama lain. Ia juga mengingatkan pentingnya jejaring melalui komunitas dan alumni, serta etika kerja lintas budaya, seperti ketepatan waktu di perusahaan Jepang.


Sebagai penutup, ia menawarkan rencana aksi 30-60-90 hari. Tahap pertama adalah fondasi, yaitu analisis kesenjangan keterampilan terhadap beberapa deskripsi pekerjaan. Tahap kedua adalah membangun keterampilan lewat kursus, jejaring, dan simulasi wawancara. Tahap ketiga adalah menampilkan diri dan menjalin koneksi dengan perusahaan tujuan.


Diskusi Interaktif dan Apresiasi bagi Peserta

Sesi tanya jawab berlangsung aktif. Mahasiswa bertanya tentang penyesuaian CV untuk tiap lowongan, pemilihan proyek dalam CV, perbedaan nilai proyek tiruan (dummy) dan proyek tim, keamanan data dalam penggunaan AI, hingga jenis proyek yang relevan untuk karier di teknologi perbankan berbasis AI. Gusti menjawab bahwa nilai dan relevansi proyek, peran aktif di dalamnya, serta skala tim dan hasil akhirnya menjadi pertimbangan utama. Untuk industri perbankan, ia menyebut keamanan siber sebagai bidang yang paling dicari, disusul pengembangan AI dan big data. Salah satu peserta juga menampilkan profil LinkedIn-nya untuk dievaluasi langsung oleh narasumber.


Sebagai bentuk apresiasi, peserta yang aktif bertanya dan hadir lebih awal memperoleh hadiah saldo dompet digital senilai Rp100.000. Kegiatan ditutup sekitar pukul 11.30 WIB.


Melalui Alumni Be Coach, Telkom University memperkuat hubungan antara alumni dan mahasiswa melalui pertukaran pengalaman serta wawasan profesional. Kegiatan ini diharapkan membantu mahasiswa mengenali kompetensi yang perlu dipersiapkan dan menyusun langkah karier yang lebih terarah, termasuk dalam menghadapi peluang di industri teknologi global.